Penyegaran Perkuliahan Berkualitas Dosen Sasmita Jaya Grup

img-20180120-wa0018

       img-20180120-wa0037

  Penyegaran perkuliahan bagi dosen-dosen Sasmita Jaya Grup menghadirkan narasumber Prof. Dr. H. M. Atwi Suparman, M.Sc. Kegiatan ini mengupas tentang proses pembelajaran dalam perkuliahan yang bernuansa global. Sebuah hadis “Jika kamu ingin meraih dunia maka dengan ilmu. Jika kamu ingin meraih akhirat maka dengan ilmu. Jika kamu ingin meraih dunia dan akhirat maka dengan ilmu. Inilah jawaban bagaimana meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka dengan pendidikanlah kebahagiaan bisa kita raih.

  Era globalisasi menuntut generasi memiliki karakter yang bisa menjawab tantangan ke depan. Mahasiswa pada saat ini bukanlah seperti mahasiswa pada saat yang dulu. Mahasiswa pada saat ini adalah mahasiswa yang dapat mengakses berbagai informasi yang nilainya mungkin sama dengan pengajarnya atau bahkan mahasiswa tersebut memiliki informasi yang jauh lebih di banding dosennya.

  Menghadapi perkembangan mahasiswa tersebut, dosen harus memahami tentang pendidikan integritas, memahami belajar intelegence ilmu mendidik,, inspirasi untuk motivasi penelitian, dan tahu bagaimana menjadi dosen berkualitas sesuai karakter pribadinya. Banyak model pembelajaran antara lain humanisme (kebebasan mahasiswa dalam berinteraksi dengan lingkungan), behavorisme (perubahan prilaku peserta didik melalui pengaturan lingkungan), kognitifisme (perubahan struktur kognitif, peserta didik adalah tujuan utama pembelajaran), konstruktivisme (belajar dengan pengalaman konkret, kontekstual, dan bermakna, cibernetisme (belajar secara sistematik dan sistemik untuk mencari, menerima, menyimpan dan memanfaatkan pengetahuan).

  Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Karena itulah dibutuhkan strategi dan manajemen dari dosen untuk menempatkan model pembelajaran disesuaikan dengan kelas yang diampunya. Misalnya; jika seorang dosen mengajar 7 kelas, tentu antara kelas satu dengan kelas lainnya memiliki karakter yang berbeda (entah tingkat pemahamannya, entah tingkat kepatuhannya dan sebagainya). Hal tersebut mengharuskan dosen untuk bisa menjadi arsitek pendidikan tentang kurikulum, strategi pembelajaran dan evaluasi. Implikasinya pengajar tidak akan monoton / kaku dalam pembelajaran dan pastinya ada variasi /seni mengajar yang berbeda pada masing-masing kelasnya.

  Dosen juga harus memiliki karakter keteladanan (disiplin, humanis), karena pada dasarnya tidak ada orang yang mau belajar dengan orang yang ditakuti. Humanisme dosen yang dimaksud adalah bagaimana dosen menghargai sebuah proses belajar mahasiswa tersebut. Dosen dengan apresiasi yang baik dan menjadi inspirasi mahasiswa untuk lebih baik lagi. Seorang dosen harus memberikan inspirasi dan mampu mengarahkan mahasiswa untuk memiliki kesiapan belajar atau mampu mengarahkan mahasiswa menjadi pembelajar mandiri (yaitu sebuah karakter yang dapat dibentuk berdasarkan proses pengembangan diri). Mahasiswa paham apa yang dipelajari dan apa manfaat dari yang dipelajari untuk pengembangan cita-citanya.

  Prof. Dr. H. M. Atwi Suparman, M.Sc menegaskan dalam presentasinya bahwa untuk menjadi dosen yang berkualitas dan menjadikan mahasiswa pembelajar mandiri, ada 12 langkah prinsip belajar dan implikasinya terhadap pembelajaran antara lain: 1] Dosen harus bisa membuat suasana belajar yang menyenangkan, dan perlu memberikan respon balik positif pada mahasiswa. 2] Dosen mampu menjelaskan tujuan pembelajaran secara jelas. 3] Dosen harus mampu menjelaskan manfaat dari tema perkuliahan. 4] Dosen harus mampu mengkondisikan tema dengan dunia nyata dan untuk mempermudah maka diperkaya dengan contoh. 5] Dosen harus mampu mengajarkan mahasiswa untuk belajar menyelesaikan masalah dengan belajar membuat kesimpulan dan membandingkan. 6] Dosen harus melakukan langkah-langkah pembelajaran yang sistemik. 7] Dosen harus mampu melakukan pembelajaran secara bertahap untuk mengetahui tahapan perkembangan mahasiswa. 8] Dosen menggunakan media dan metode secara tepat dengan model pendekatan pembelajaran sesuai kelasnya. 9] Dosen harus mampu merumuskan tujuan pembelajaran kearah hasil pembelajaran. 10] Dosen mampu mendeskripsikan kemajuan mahasiswa secara bertahap dan teratur. 11] Dosen mampu menerapkan belajar tuntas. 12] Dosen mampu menyusun panduan belajar.

  Jika mahasiswa melakukan pekerjaan positif maka dosen mampu memberikan penghargaan positif, nilai yang adil dan pujian. Jika mahasiswa melakukan hal negatif maka seorang dosen dapat memberi hukuman positif yang bersifat akademik.

  Tentu tahapan tersebut dalam rangka menuju perguruan tinggi yang berkualitas. Perguruan tinggi yang mampu menyediakan layanan sangat memuaskan bagi pihak internal dan eksternal sehingga dapat memenuhi harapan masyarakat.  Semangat menuju perkuliahan yang berkualitas. (Amaliyah)