Program Studi S1 Akuntansi Menyelenggarakan Internasional Seminar & Call For Paper

seminar-is-edit

  seminar-is-edit

  Internasional seminar & call for paper on accounting for society (21/3/2018) yang diselenggarakan oleh Program Studi S1 Akuntansi Universitas Pamulang berlangsung lancar dan sukses. Acara tersebut bertemakan “sustainable development challonge and opportunity for accountant professional in developing countries”. Terhitung 47 Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta mengikuti kegiatan tersebut. Peserta seminar terdiri dari dosen Unpam dan dosen undangan dari berbagai perguruan tinggi serta 1500 mahasiswa Prodi S1 Akuntansi. Seminar ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Sasmita Jaya Group Bapak Dr. (HC). Drs. H. Darsono dan jajaran rektorat Unpam. Acara diawali persembahan tarian rapak bedug, tarian adat yang memiliki arti serempak atau kompak yaitu mengambarkan kebersamaan dan kerjasama. Selanjutnya dilakukan penandatanganan kerjasama antara Unpam dan perguruan tinggi lain melalui MOU, LOU dan lain sebagainya.

  Prodi S1 Akuntansi….. juara…. juara… juara…. peserta dari mahasiswa bergemuruh semangat meneriakkan yel-yel dari Prodi S1 Akuntansi. Sisipan yel-yel baru yang diberikan oleh Pak Asih Arianto, Ak., CA., CPA. (sekjen kementrian keuangan bidang perizinan) menambah semangat yaitu “Universitas Pamulang” mahasiswa gemuruh menjawab ”Indonesia jaya”. Tak ketinggalan dari Kaprodi S1 Akuntansi menambahkan untuk mengenalkan Unpam dengan “The Blue Jacket” bersaing dengan ketenaran UI dengan “The Yellow Jacket”. “The Blue Jacket” yeeee…. sorak sorai mahasiswa menyambutnya.

  Seminar ini memberikan pandangan kepada praktisi dan mahasiswa tentang peluang-peluang yang dapat diambil dalam pengembangan diri secara profesional di bidang akuntansi. Pak Asih Arianto Ak., CA., CPA. mengatakan bahwa menurut informasi Rektor Unpam bahwa dari 80.000 mahasiswa 65% sudah bekerja setelah kelulusan, sisanya 35% ada masa tunggu (tidak lama) sekitar 6 bulan baru memperoleh pekerjaan. Hasil survei yang dilakukan Unpam. Hal tersebut membuktikan bahwa lulusan akuntansi  masih sangat dibutuhkan.

  Pak Asih Arianto, Ak., CA., CPA. mewakili Prof. Mardiasmo, MBA, Ph.D., CFrA., QIA., Ak., CA., FCMA. memberikan pandangan tentang pengembangan profesi bidang akuntansi. Adapun Tantangan yang dihadapi yaitu era globalisasi, perkembangan teknologi, mahasiswa sebagai generasi milineal. Menyeimbangkan akuntansi dengan sosial. Kesempatan yang mampu diambil baik regional maupun internasional. Pengenalan dan perkembangan profesi keuangan (AP & KAP).

  Sebetulnya potensi klien di Indonesia bagi akuntan sangat besar. Sedang di Indonesia hanya dikuasai oleh akuntan  publik yang dikenal “The top 5 business challenger for Accounting & Financial services firms”. Strategi akuntan sebagai individu di era MEA yaitu meningkatkan soft skills, terus meningkatkan kompetensi networking, memiliki sertifikasi brevet, memiliki integritas tinggi. Pak Asih, Ak., CA., CPA.  menegaskan bahwa networking perlu mulai dibangun dari tingkat kecil dimulai dari mahasiswa untuk berlatih hal tersebut.

  Assoc. Prof. Dr. Jamailah Said (Malaysia) membahas tentang expectations of professional Accountant  (harapan akuntan profesional). Pertama, survive artinya bahwa seorang akuntan profesional harus mengupdate keilmuan dan pengetahuan tentang standar akuntansi terbaru mengikuti perkembangan zaman. Kedua, changing expectations artinya bahwa seorang akuntan profesional harus mampu mengubah harapan yang lebih luas dan berkembang pada bidang-bidang yang dapat dimasuki jasa akuntan. Ketiga,  evolution of the accounting environment maksudnya bahwa profesionalitas akuntansi juga mengalami evolusi dimana seorang akuntan harus menangkap peluang kerja melalui jasa akuntan agar bisa disenergikan dengan bidang lain. Keempat, technology every accountant artinya bahwa teknologi memberi dampak positif dalam peningkatan efektifitas, mencapai hasil output laporan keuangan yang benar, perlindungan atas aset perusahaan. Penguasaan teknologi bagi akuntan merupakan kebutuhan primer di era digital.

  Dr. Istiana Maftuchah, M.Si. mengatakan bahwa ada banyak peluang yang bisa diambil oleh para mahasiswa akuntansi semisal yang sangat dibutuhkan saat ini adalah menjadi akuntan publik dana desa yang nilainya hingga 2 milyar /tahun. Karena banyak dari aparat desa tidak mempunyai ketrampilan menghitung secara akuntansi yang benar dan masih secara sederhana. Banyak perusahan-perusahaan yang membutuhkan jasa akuntan publik karena harus masuk regulasi OJK.  Pada kesempatan seminar ini Dr. Istiana Maftuchah, M.Si. juga menyampaikan juga membuka peluang bagi mahasiswa Unpam untuk melakukan magang kerja di OJK.

  Clarance Juvenal Dela Cruz, CPA., CFE (Philippines) mengemukan tentang Certified Public Accountant (CPA) yang merupakan kurikulum program pengembangan profesi bagi akuntan.  Mengapa aku memilih untuk menjadi CPA? karena  CPA mampu memenuhi kebutuhan stakeholders (pihak-pihak yang berkepentingan) seperti manajemen, karyawan, investor, kreditor, pemasok, pemerintah dan masyarakat umum.

  Daya saing yang tinggi menuntut tingkat profesionalisme dan keahlian (skill) yang tinggi di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Setiap perguruan tinggi dengan berbagai jurusannya dituntut mampu menjawab karier lulusannya. CPA masih memberi peluang di dunia karier baik akuntan publik, akuntan perusahaan, akuntan pendidik, akuntan pemerintahan,  maupun akuntansi umum. Tentu dibutuhkan hardskil dan soft skill bagi seorang CPA yaitu pertama, basic literacy skill (keahlian membaca, menulis, mendengar). Kedua, technical skill (pengembangan teknik operasional komputer). Ketiga, interpersonal skill (kemampuan berinteraksi atau rekan kerja dengan orang lain). Keempat, problem solving (menganalisa dan menyelesaikan dengan baik).

  Dr. Alex Zami, SE., MM. mengatakan bahwa bidang akuntansi semakin meluas dalam pengembangan karier untuk lulusannya.  Pada dasarnya akuntansi memiliki beberapa prinsip  antara lain prinsip ekonomi sosial, good corporate governace, akuntanbilitas, transparansi, responsibilitas, lingkungan sosial dan bisnis, profesional (independent dan free varming al truist) dan komesial.

  Prilaku etika jasa akuntan publik sudah ada pada konggres 1973. Adapun Nilai-nilai etika (integritas, kerjasama, inovasi, simplisitas). Dr. Alex Zami, SE., MM. Menambahkan bahwa karakter dengan profesi akuntan publik (karier dan up or cut), namun demikian akuntan profesional banyak yang beralih pada akuntan manajemen karena posisi organisasi adalah posisi yang sangat mengiurkan.

  Pembicara terakhir pak Endang Ruhiyat, S.E., M.M mengemukakan tentang akuntansi lingkungan. Bahwa  permasalahan sosial dan implimentasi yang ditimbulkan (akuntan lingkungan) disebabkan karena ketimpangan sosial pembayaran tidak adil, kerusakan lingkungan, kontak sosial, akuntanbilitas. Teori yang digunakan untuk mengembangkan akuntan lingkungan melaui  system, internal, kontrol, person, religius. Seperti halnya yang dikemukakan oleh Prof. Gani tentang akuntan spiritualitas yaitu evolusi pelaporan perusahaan akan berdampak mengurangi resiko bisnis.

  Ada peserta seminar Internasional bertanya tentang perbankan online kemudian ditanggapi dan dijelaskan dari perwakilan OJK. Bahwa OJK dan BI tidak mentorerir lembaga lembaga yang mengadakan investasi bank online dan tidak bertanggungjawab terhadap hal tersebut. Pada akhir acara pertanyaan yang mendapat pandangan dari para pembicara adalah tentang etika yang harus dimiliki oleh para akuntan yaitu keberanian untuk hidup sederhana dan menjaga kejujuran. Orang pandai banyak namun orang jujur sedikit, jadilah yang sedikit. Menjadi akuntan karena perintah Allah, dalam surat Al Baqaroh ayat 282 (pencatatan transaksi bisnis) dan surat Yusuf ayat 54-55 (bendaharawan). Pada ayat tersebut menjelaskan bahwa merencanakan, mengorganisasi, memimpin, mengontrol semua pekerjaan akuntansi dan keuangan dengan asmaNya”. Semangat “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”.

  Internasional seminar & call for paper on accounting for society didukung dan disponsori oleh IAI KAPd Banten, bank DKI, Mandiri, OJK,  Penerbit Salemba, dan Bina Fiscal Indonesia. Sedangkan untuk Co Host dari Universitas Islam Indonesia, Universitas Pakuan, dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.